Baju Bodo Masa Kini Yang Kental Dengan Unsur Islam

Lontar.id– Salah satu cara menunjukkan identitas adalah melalui pakaian yang digunakan. Hal itu yang saya lakukan saat mengikuti upacara wisuda beberapa minggu lalu di kampus. Untuk menunjukkan identitas saya sebagai orang Bugis, tanpa menginformasikannya secara …

Lontar.id– Salah satu cara menunjukkan identitas adalah melalui pakaian yang digunakan. Hal itu yang saya lakukan saat mengikuti upacara wisuda beberapa minggu lalu di kampus. Untuk menunjukkan identitas saya sebagai orang Bugis, tanpa menginformasikannya secara verbal, adalah dengan menggunakan pakaian khas masyarakat Bugis Makassar, yang dikenal dengan nama Baju Bodo’.Orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang kebudayaan Bugis saat melihat saya mengenakan busana itu, pasti dapat menebak jika saya memiliki ikatan dengan suku Bugis.

Baju Bodo dikenal sebagai salah satu busana tertua di dunia. Pada awalnya, baju Bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku lengan.

Baca Juga: Perempuan Bugis Berkalung Rimpu

Baju bodo ini dipasangkan dengan sehelai sarung menutupi pinggang hingga kaki. Sarung yang dipergunakan sebagai paduan baju Bodo terbuat dari benang biasa atau sutera asli yang berasal dari serat alam, serat pisang hutan, serat akar anggrek liar. Sarung merupakan sarung tenun Mandar dan tenunan Bugis. Warna sarung yang dipergunakan biasanya memiliki warna dasar hitam, coklat tua atau biru tua. Apabila sarung dibuat dengan warna mengkilap disebutLipa Sabbe. Ciri khas motif yang dipakai adalah corak kotak-kotak besar atau kecil dengan hiasan emas pada garisnya. Sementara itu, baju bodo yang longgar berbahan kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada.

Pakaian adat baju Bodo suku Bugis, Makassar, dan Mandar ini dipakai pada upacara-upacara adat. Bentuk dasar baju Bodo pada umumnya sama, yaitu persegi panjang, yang membedakan hanya panjang baju. Beberapa peneliti menemukan bahwa panjang baju dan warna disesuaikan dengan tingkat umur dan standing perkawinan pemakainya.

Warna baju bodo menjadi pertanda identitas perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis-Makassar, di antaranya, warna merah tua (baju bodo panjang) dipakai oleh perempuan yang sudah bersuami, warna merah jambu (baju bodo pendek) dipakai perempuan puteri keraton. Warna hijau muda (baju bodo pendek) dipakai perempuan dalam lingkungan keraton, sementara warna kuning digunakan oleh kalangan biasa. Warna hitam (baju bodo panjang) dipakai oleh ibu mempelai wanita dalam ritual pernikahan, dan merah darah dipakai oleh pengantin wanita. Selain itu, ada juga warna ungu yang dipakai oleh para janda dan warna putih dipakai oleh dukun.

Baca Juga: Bissu Setelah Islamisasi Bugis

Melalui penggunaan baju Bodo, dapat dilihat dahulu masyarakat suku Bugis-Makassar sangat feodal, yang juga kental dengan kebudayaannya yang patriarkis. Bagi mereka yang janda diberikan warna khusus untuk meneguhkan posisinya di tengah masyarakat, begitupun dengan kaum bangsawan diberi ruang menunjukkan statusnya dalam strata sosial masyarakat Bugis-Makassar.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, ketika kebudayaan Bugis mengalami sinkretisme dengan ajaran Islam, secara langsung mengubah pemaknaan dan penggunaan masyarakat terhadap baju bodo.

Kini, baju bodo dengan warna apapun dapat digunakan oleh perempuan tanpa memandang umur, status perkawinan, dan strata sosialnya di masyarakat. Dan jangan berharap lagi, ada baju bodo yang memperlihatkan payudara dan lekuk tubuh, justru saat ini baju bodo dimodifikasi sedemikian rupa bagi masyarakat Bugis yang hampir seluruhnya telah menganut ajaran Islam. Dengan kata lain, baju Bodo versi Syar’i, yakni yang digunakan dengan hijab.

Baca Juga: Membaca Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis

Tidak ada batasan dan aturan khusus bagi perempuan yang ingin mengguanan baju bodo saat ini. Kita dapat memakainya di perhelatan apa saja, bahkan pada acara yang tidak memiliki ikatan dengan adat, misalnya menggunakan baju bodo pada upacara wisuda seperti yang saya lakukan beberapa waktu lalu.

Melalui bojo bodo, kita dapat melihat perkembangan kebudayaan masyarakat Bugis. Dulu, baju bodo yang menampakkan payudara dianggap sebagai pakaian yang layak dan sopan-sopan saja ketika digunakan. Masyarakat tidak melihat itu sebagai bagian dari pornografi.