Baju Bodo, Pengembangan Dan Akulturasi

Liputan Budaya, Estetika – Sahabat Estetika yang berasal dari Sulawesi Selatan khususnya yang terpapar etnis Bugis dan Makassar tentu sudah tidak asing ketika mendengar kata baju bodo. Bahkan, sahabat pasti sudah acquainted dengan visible pakaian …

Liputan Budaya, Estetika – Sahabat Estetika yang berasal dari Sulawesi Selatan khususnya yang terpapar etnis Bugis dan Makassar tentu sudah tidak asing ketika mendengar kata baju bodo. Bahkan, sahabat pasti sudah acquainted dengan visible pakaian tradisional tersebut.

Reporter Estetika mendatangi salah satu rumah penyewaan kostum dan busana tradisional yang terletak di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Rumah ini dimiliki dan dikelola oleh Ibu Hermawaty. Ia adalah guru seni budaya di SMAN thirteen Bone yang telah berkecimpung dalam dunia kesenian tradisional sepanjang karirnya.

Foto : Narasumber (tengah) bersama kedua siswanya yang memakai baju bodo. Sumber : Instagram.SEKILAS MENGENAI BAJU BODO

Baju bodo merupakan pakaian tradisional yang berasal dari Sulawesi Selatan. Pakaian tradisional ini umumnya dikenakan oleh wanita pada acara-acara adat. Baju bodo berbentuk segi empat dan disandingkan dengan sarung sutra atau lipa’ sabbe.

Umumnya, baju bodo dilengkapi dengan aksesoris kalung geno sibatu dan sima taiya’ digunakan untuk mengikat di bagian lengan. Aksesoris lain berupa kalung dan bando biasa digunakan oleh penari ketika mengenakan baju bodo pada tarian tradisional khas Bugis-Makassar.

Baju bodo telah ada secara turun temurun dari generasi terdahulu hingga generasi sekarang. Pakaian ini tidak dapat digunakan sebagai busana sehari-hari, melainkan digunakan pada upacara-upacara adat seperti perayaan hari jadi Bone.

Penggunaan baju bodo pada acara adat memperingati hari jadi Bone merupakan bentuk pelestarian kebudayaan sekaligus sebagai penanaman kecintaan terhadap busana adat daerah.

Selain itu, baju bodo juga digunakan untuk kepentingan kostum tari dan pertunjukan. Baju bodo menunjukkan identitas dan simbol dari tarian yang berasal dari sulawesi selatan.

PERKEMBANGAN DAN AKULTURASI BAJU BODO

Baju bodo merupakan produk dari kebudayaan. Kita tentunya mengetahui bahwa kebudayaan bersifat dinamis. Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu terjadi pula perkembangan dan akulturasi pada pakaian tradisional ini.

Sekadar info, akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan itu sendiri. (Wikipedia)

Perkembangan yang terjadi pada baju bodo bisa kita saksikan hasilnya di zaman sekarang. Dahulu, baju bodo hanya terbuat dari bahan benang sutra yang ditenun menggunakan alat tenun tradisional. Tetapi, pada zaman sekarang sudah banyak bahan tekstil sehingga baju bodo sudah umum kita temui terbuat dari kain tetron/teteron.

Gambar : Perbandingan baju bodo kain sutra dengan kain tetron. (Andi Fitrah Insaan/Estetikapers)Baju bodo yang terbuat dari kain sutra teksturnya lebih lembut dan halus, dan tentu saja lebih mahal dibandingkan dengan kain tetron. Kain tetron bersifat lebih tebal dan kaku.

Bentuk lain dari perkembangan yang terjadi pada baju bodo adalah pada cara pemakaiannya dengan sarung sutra atau lipa’ sabbe. Kita pasti familiar dengan lirik lagu Tulolona Sulawesi yang didalamnya terkandung frasa “mangingking lipa’ sabbe na”, seperti itulah penggunaan murni dari lipa’ sabbe yang dikenakan pada baju bodo, yaitu dengan cara dikingking. Sarung diikat sehingga orang yang memakai bisa memegang dan mengangkat ikatan sarung tersebut.

Gambar : Lipa’ dikingking dan sarung diikat dengan tali rafia. (Andi Fitrah Insaan/Estetikapers)Sekarang penggunaan sarung lebih umum dengan cara diikat di bagian dalam menggunakan tali rafia, biasa juga digunakan peniti untuk memperkuat utamanya digunakan oleh penari yang mengenakan baju bodo sebagai kostum tariannya. Pemakaian sarung seperti ini lebih mempermudah gerakan karena tidak perlu dipegang dan tetap kuat.

Di atas telah dibahas sedikit mengenai akulturasi, singkatnya akulturasi merupakan penggabungan budaya tanpa menghilangkan unsur-unsur kebudayaan asli. Fenomena ini juga terjadi pada pakaian tradisional baju bodo. Seiring waktu, bentuk dari baju mengalami perubahan karena akulturasi.

“Mengenai akulturasi, baju bodo mengalami akulturasi dengan kebudayaan islam yaitu pada penggunaan kerudung,” papar Ibu Hermawaty.

Narasumber kami memaparkan bahwa dahulu, baju bodo yang tipis dikenakan begitu saja sehingga pakaian dalam hingga lekuk tubuh dari penggunanya dapat dengan mudah terlihat. Baju bodo kemudian mengalami akulturasi dengan kebudayaan islam yang membatasi wanita dalam menunjukkan auratnya. Dengan demikian, terjadilah penggunaan manset dan kerudung pada pemakaian baju bodo. Dengan penggunaan manset dan kerudung, maka bagian tubuh dari pengguna baju bodo bisa tertutupi.

Narasumber kami menceritakan pengalamannya ketika pertama kali memadukan baju bodo dengan kerudung pada siswi-siswinya yang membawakan tarian tradisional pada tahun 2005. Baju bodo, yang sejatinya digunakan bersama sanggul atau simboleng atau simpolong namun pada waktu itu pertama kali dipadukan dengan kerudung memperoleh protes dan komplain yang keras dari budayawan Kabupaten Bone. Para budayawan Bone ingin mempertahankan bentuk asli dengan penggunaan simboleng atau simpolong.

“Saya ingat tahun 2005 pertama kali saya bawa anak-anak lomba menari dengan memakai kerudung, banyak yang komplain karena dikira merusak budaya. Tetapi lambat laun jadi diterima karena animo masyarakat yang banyak memakai baju bodo dengan kerudung,” ungkapnya.

Lambat laun, dengan animo masyarakat yang banyak memadukan baju bodo bersama kerudung, maka kombinasi tersebut menjadi hal yang lumrah dan kemudian berterima dengan masyarakat umum. Sekarang, sahabat dapat menyaksikan mayoritas wanita yang menggunakan baju bodo memadukannya dengan kerudung.

Terkait dengan perubahan yang terjadi dengan baju bodo yang dipadukan bersama kerudung, narasumber kami mengklaim bahwa meskipun mengalami akulturasi, kerudung tidak mengubah nilai budaya yang terkandung dalam baju bodo. Baju bodo masih memberikan ciri khas tersendiri sebagai busana tradisional daerah bugis.

Gambar : Akulturasi yang terjadi pada baju bodo dengan penambahan kerudung dan dalaman yang tertutup.Akulturasi yang terjadi pada baju bodo tidak terjadi sebatas pada penggunaan kerudung saja. Akulturasi pada baju bodo sampai pada tahap dimana baju bodo berubah bentuk dari berbentuk segi empat menjadi lengan panjang.

Narasumber kami memaparkan bahwa perubahan bentuk pada baju bodo ini tidak tepat lagi disebut dengan baju bodo. Hal ini disebabkan karena esensi dari baju bodo adalah baju yang berbentuk kotak-kotak alias bodo-bodo.

“Kreasi dari baju bodo lengan panjang itu sebenarnya bukan lagi baju bodo, karena baju bodo asalnya dari kata bodo-bodo berarti bentuk dari baju bodo itu kotak. Tetapi masyarakat sudah menerima bentuk baju bodo lengan panjang dan tetap menyebutnya sebagai baju bodo,” paparnya.

Meskipun hasil dari akulturasi tidak sesuai lagi dengan bentuk asli, tetapi masyarakat bisa menerimanya sebagai baju bodo berlengan panjang.

Gambar : Andi Fitrah Insaan/Estetikapers.Budaya berkembang seiring dengan berkembangnya manusia sebagai penghasil kebudayaan. Sehingga akulturasi yang terjadi pada baju bodo merupakan hal yang sah-sah saja karena segala perubahan yang terjadi masih mencerminkan nilai-nilai budaya yang dimiliki baju bodo sebagai pakaian tradisional Bugis-Makassar.

Reporter: Andi Fitrah Insaan