Alpha Female, The True Definition Of Badass Woman

Kemarin, gua ketemu sama sahabat gw sedari jaman sekolah dulu. Tadinya mau janjian ama anak-anak, eh tapi jadinya cuman berdua doang. Wah kebetulan banget ini, lagi nyari bahan buat ngeblog soalnya. Sebut saja Dwi, seorang …

Kemarin, gua ketemu sama sahabat gw sedari jaman sekolah dulu. Tadinya mau janjian ama anak-anak, eh tapi jadinya cuman berdua doang. Wah kebetulan banget ini, lagi nyari bahan buat ngeblog soalnya. Sebut saja Dwi, seorang wanita yang menurut gua pribadi merupakan seorang Alpha Female.

Apa itu Alpha Female? Secara definisi pribadi, alpha feminine merupakan satu jenis wanita yang bisa membuat semua laki-laki bertekuk lutut di hadapannya. Hampir semua orang menganggapnya sebagai natural leader, orang yang asik dan supel, ramah, dan punya sex appeal yang tinggi tanpa memperlihatkannya. Sedangkan bagi suami atau lover sang alpha female, mereka bagaikan sex queen yang bisa mewujudkan semua fantasi seksual mereka. Don’t worry, we’re gonna discuss this later.

But first, let’s talk about this alpha female personality.

Bagi seorang alpha feminine, character yang baik bukan merupakan sesuatu yang perlu dipelajari. She’s born with it. That’s their gift, their expertise, and their weapon. Sedari lahir, mereka sudah di karuniai character yang dapat menjadi magnet bagi semua orang. Mulai dari sikapnya yang sangat-sangat approachable, cara bicaranya yang membuat nyaman semua orang, hingga physique language yang tidak pernah terlihat kaku.

Pada saat berbicara, alpha feminine selalu menyamakan nada suara yang dipakai oleh lawan bicaranya. Mereka berusaha sejajar dengan lawan bicaranya, agar bisa menyerap informasi dan merespon dengan baik. They also know when to talk, and when to shut. Mereka tahu dalam hitungan detik harus merespon lawan bicara nya dengan kalimat apa. Dan pada titik inilah, siapapun yang mendengar jawabannya bakal bilang ‘wah ni cewe asik nih, enak di ajak ngobrol’

Seorang alpha female pun dapat menjadi teman semua orang dengan sekejap. Mereka sudah hatam dan skilled dalam mendekati orang. But how? SKSD? Please, seorang alpha female ga perlu melakukannya. Mereka lah yang di SKSD-in oleh orang lain dan berharap dia menjadi dteman mereka. Alpha female ga perlu effort yang banyak untuk membuat orang suka dan dekat dengan mereka. That’s true, because I already seen it with my own very eyes.

Dan salah satu sifat yang paling gua kagumi dari seorang alpha female adalah, they’ve this ‘I don’t give a fuck’ attitude, however with some class. Mereka sangat pede memakai baju apa saja, walaupun belum pernah ada yang make dan dirasa bakal aneh. But no, they only don’t give a fuck saking besar rasa pede nya. Dia hampir ga peduli dengan pendapat orang lain yang mengatakan hal itu jelek, dan malah menularkan kepedeannya pada orang sekitar secara positif.

Dwi, temen gua yang merupakan seorang alpha female punya semua hal ini. Dia bisa menggaet perhatian semua orang dengan mudah, yang didukung juga dengan sex appeal yang tinggi. Wait, what?

Yes, alpha female biasanya punya intercourse appeal yang tinggi. Mereka usually have this ‘sexy’ aura shrouding round them. Seksi disini bukan bitchy atau slutty, tapi lebih ke seksi yang berkelas dan sangat kuat. Aura ini bakal bikin 2 efek : bikin orang-orang berfikir langsung berfikir ‘Damn, she’s sizzling’ dan sekaligus jadi segan dan minder buat sebagian orang yang ga pede atau merasa dirinya inferior.

Dwi dan beberapa teman alpha female yang gua kenal memang punya sex appeal yang tinggi, bahkan pada saat mereka pake baju yang tertutup sekalipun. Biarpun secara muka atau badan tidak menarik, mereka pasti punya satu momen yang bikin semua orang nyadar bahwa mereka ini seksi. Entah pada saat berjalan, pada saat ngomong, atau bahkan pada saat dia fokus ngerjain sesuatu. They‘ve obtained one thing on their gaze that tell us to look and admire her.

Even her boobs can’t distract me from looking her face.Aura seksi yang seakan-akan selalu menyebar pheromone ini ga melulu terlihat dari badan atau muka. Bisa juga dari nada bicaranya, atau bisa juga dari cara dia menyentuh dan berkomunikasi dengan orang lain. Dan percayalah, gua merupakan korban dari hal ini. Dulu jaman kuliah gua pernah ngeceng seseorang gegara ngeliat bibir doi yang lagi ngomong dari kejauhan, lengkap dengan spouting dan grinning yang merupakan titik lemah gua. Dan setelah diliat, tu cewe memang alpha female. Semua orang mengarahkan perhatian ke dia, pada betah ngeliatin dia ngomong.

Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa gua bilang seorang alpha female selalu menjadi focal point dalam setiap perkumpulan. Selain character mereka yang memikat dan asik untuk di ajak ngobrol, they spray pheromone to draw both female and male consideration. Dan kadang hal ini malah membuat mereka mendapat banyak masalah, especially from perverts.

Entah udah berapa pervert yang ngedeketin si Dwi, karena mereka mengira ni cewe seksi dan ‘gampangan’ buat dipake. Mereka bahkan ada yang sampe nyewa kamar dan mau ngejebak si Dwi biar bisa maen bareng! Creepy as fuck!

Tapi engga, hal ini ga mempan banget sama Dwi. Seorang alpha feminine ga mempan di giniin. Mereka punya kredibilitas dan reputasi yang dijaga. Mereka punya kode etik, prinsip dan perspective yang kuat. Hal inilah yang membuat mereka selalu terlihat mempunyai kelas nya sendiri, dan membuat mereka tetap menjadi seorang alpha female.

Prinsip hidup seorang alpha female sudah tidak bisa diganggu gugat. Mereka punya satu prinsip dan kode etik yang harus mereka jalani, dan sama sekali ga bisa dilanggar. Mereka kuat karena prinsip mereka, kemauan mereka, dan tujuan mereka. Ada yang ga setuju ama prinsip dan cara maen mereka? Either they can fuck off some place else, or follow her guidelines.

Mereka dominan. Of course. Dengan sifat, sikap dan prinsip mereka yang kuat, ga mungkin mereka ga dominan. Tapi bagusnya adalah, mereka juga affordable. Mereka mendominasi bukan secara tirani, tapi lebih ke arah demokrasi. Semua hal bisa dibicarakan dan diupayakan bersama, baik dalam kerja sama sebuah tim maupun dalam sebuah relationship. But bear in mind this phrases : “Alpha females don’t run in packs”

Mereka kuat, mereka dominan, dan mereka punya prinsip hidup sendiri. Mereka bisa berjuang sendiri hampir tanpa bantuan siapapun, dan mereka benar-benar anti mengharapkan orang lain. Mereka mampu menanggung malu demi kehidupan yang di inginkannya, and they’re not afraid to indicate it. They wish to present the world that they’re capable doing every little thing alone.

Dan mereka tegas, dan lugas. Gua ga pernah ketemu seorang alpha female yang ga pede dan terbata-bata ngomongnya. Mereka tahu apa yang harus mereka bicarakan dengan tenang, walaupun pada saat itu mereka ga punya pengetahuan tentang apa yang dibicarakan. Mereka bisa meyakinkan orang-orang pada saat bingung, yang membuatnya seorang pure leader. Pada saat ada masalah, ga jarang yang paling pertama ditunjuk untuk nyari solusinya adalah si alpha feminine ini. They can think from totally different perspective and completely different angle, and converse it out loud and clear so people can perceive. Amazing, isn’t?

Yah, tapi semua yang gua tulis kadang ga sesuai dengan kenyataan juga. Kadang si alpha female ini kena mental breakdown yang sangat parah, yang membuatnya ga bisa ngapa-ngapain kecuali nangis seharian. Mereka juga butuh orang lain buat di curhatin, butuh kasih sayang dan ketemu teman-teman buat ngeluapin pikirannya. Atau misalnya dia udah pasangan, tentu saja harus dikasih afeksi sama cowonya. She’s just a mere human in spite of everything.

Speaking of which, aren’t we gonna speak about something?

Ah, akhirnya nyampe juga ke topik ini. Topik yang sebenernya paling ogah ua bahas. Karena mau tidak mau secara sekelibat gua harus ngebuka memori gua tentang cerita si Dwi yang dia omongin pake SUPER DETAIL. Shit.

Sudah ga dipungkiri lagi bahwa seorang alpha feminine bisa jadi intercourse queen yang diimpikan semua laki-laki. Waktu gua tanya ke si Dwi, apa sih salah satu kriteria yang harus dipunya seorang laki-laki biar bisa betah sama alpha feminine?

> “Libidonya dan fantasy seksualnya harus tinggi. Dia harus bisa tahan lama, karena maen sebentar ga asik. Dia juga harus mau nyoba yang aneh-aneh, karena gua suka eksplore dan ‘menjelajah’ space yang belum terjajah” — Dwi

Seorang alpha female benar-benar bisa jadi sex queen bagi pasangannya. Mereka bersedia dan bahagia kalau disuruh menuhin fantasy seksual pasangannya. They’re giver, mereka bakal dengan senang hati ngasih apa yang pasangannya minta, plus bonus tentunya. Mulai dari pakai baju/lingerie yang aneh-aneh, aaktifitas seksual yang diluar kebiasaan umum seperti BDSM ringan, advance oral intercourse, sampe quickie di tempat publik pun dijabanin ama ni alpha feminine. I mean, kalo lu seorang cowo regular, kurang apa lagi coba?

They know they’re horny, they usually show it extra once they have intercourse. Seksi disini udah kaya di film-film bokep, kaya tiba-tiba ngebisikin kata ‘fuck me’ atau ‘use me’ dengan frekuensi yang sensual yang bikin pasangannya kalikiben dan tidak bisa menahan muatannya. Mereka juga jago banget teasing dan foreplaying. Mereka sangat menikmati muka pasangannya yang kaya orang bego pada saat di goda atau sekedar di elus.

Ga cuman di tempat tidur, mereka juga doyan nge-tease pasangannya pada waktu yang sangat-sangat tidak tepat, seperti pada saat jam kerja misalnya. Mereka bisa dengan mudah ngirim nudes atau pada saat mereka pakai lingerie favorit pasangannya pada saat jam kerja, tanpa dosa. Mereka tau si cowo bakal kaga fokus, ngerasa gila, dan berimajinasi liar. Sadist lady is sadist.

You get the picture proper?
Sebenarnya masih banyak sih contoh-contohnya, cuman gua takut ini submit bakal jadi cerita fanfic erotis yang mungkin bakal di banned. Sorry bro, please take your boner elsewhere.